Teknik Dasar Fotografi Digital (bag 4) : Blitz/Flash Light

Posted in Fotografi.

Setelah sekian lama serial artikel tentang teknik dasar fotografi digital nggak saya update di blog ini, akhirnya gatel juga untuk posting :p. Sebelumnya kita sudah membahas tentang shutter speed, aperture dan iso, serta terminologi dalam fotografi. dalam serial artikel teknik dasar fotografi digital kali ini saya akan membahas tentang Blitz ato dalam bahasa madura-nya flash light.

Blitz atau flash diterjemahkan secara bebas menjadi lampu kilat. Ini merupakan satu asesori yang sangat luas dipakai dalam dunia fotografi. Fungsi utamanya adalah untuk meng-illuminate (mencahayai/menerangi) obyek yang kekurangan cahaya agar terekspos dengan baik. Tetapi belakangan penggunaannya mulai meluas untuk menghasilkan foto-foto artistik. Artikel ini akan membahas dasar-dasar pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan flash dengan benar.

Menggunakan lampu kilat bukan hanya sekedar menyalakan flash, mengarahkan kamera kemudian klik dan jadilah satu foto yang terang, tetapi ada hal-hal yang perlu kita ketahui demi mendapat karya fotografi yang baik.

Blitz dan GN (Guide Number)

Untuk membagi/mengklasifikasikan blitz, ada beberapa klasifikasi yang dapat digunakan. Yang pertama, berdasarkan ketersediaan dalam kamera maka blitz dibagi menjadi built-in flash dan eksternal. Flash built-in berasal dari kameranya sendiri sedangkan blitz eksternal adalah blitz tambahan yang disambung menggunakan kabel atau hot shoe ke kamera. Selain itu, kita juga dapat membaginya berdasarkan tipe/merk kamera.

Kita mengenal dedicated flash dan non-dedicated flash. Dedicated flash adalah flash yang dibuat khusus untuk menggunakan fitur-fitur tertentu dalam suatu kamera spesifik. Biasanya produsen kamera mengeluarkan blitz yang spesifik juga untuk jajaran kameranya dan dapat menggunakan fitur-fitur seperti TTL, slow sync atau rear sync, dll. Sedangkan blitz non-dedicated memiliki fungsi-fungsi umum saja dari kebanyakan kamera dan bisa digunakan terlepas dari tipe/merk kamera. Flash jenis inilah yang biasanya membutuhkan banyak perhitungan karena flash yang sudah dedicated sudah mendapat informasi pencahayaan dari kamera sehingga tidak membutuhkan setting tambahan lagi.

Ada juga flash yang kekuatan outputnya (GN) bisa diatur dan ada juga yang tidak bisa (fixed GN). Kita akan cenderung lebih banyak membicarakan tentang flash yang non-dedicated, non-TTL, dan fixed GN.

Dalam fotografi menggunakan blitz, kita tidak akan lepas dari kalkulasi-kalkulasi yang berkaitan dengan intensitas cahaya yang terefleksi balik dari obyek yang kita cahayai. Karena itu, kita akan berjumpa dengan apa yang sering disebut GN (Guide Number) atau kekuatan flash. Secara singkat kita dapat katakan kalau flashnya berkekuatan besar, maka akan dapat mencahayai satu obyek dengan lebih terang dan bisa menjangkau obyek yang lebih jauh.

GN pada dasarnya merupakan perhitungan sederhana kekuatan flash. Kita mengenal 2 macam penulisan GN yaitu dengan menggunakan perhitungan satuan yang berbeda yaitu m (meter) dan feet (kaki). Lazimnya di Indonesia kita menggunakan hitungan dengan m. Ini merupakan salah satu pertimbangan juga karena untuk flash dengan kekuatan sama, angka GN m dan feet berbeda jauh. Selain itu, umumnya GN ditulis untuk pemakaian film dengan ISO/ASA 100 dan sudut lebar (35mm/24mm/20mm).

GN merupakan hasil kali antara jarak dengan bukaan (f/ stop atau aperture) pada kondisi tertentu (ISO/ASA 100/35mm/m atau ISO/ASA 100/35mm/feet). Sebagai contoh, jika kita ingin menggunakan flash untuk memotret seseorang yang berdiri pada jarak 5m dari kita menggunakan lensa 35mm dan kita ingin menggunakan f/2.8 maka kita memerlukan flash ber-GN 14. Penghitungan yang biasa digunakan biasanya justru mencari aperture tepat untuk blitz tertentu. Misalnya, dengan blitz GN 28 maka untuk memotret obyek berjarak 5m tersebut kita akan menggunakan f/5.6.

GN ini hanya merupakan suatu panduan bagi fotografer. Bukan harga mati. Yang mempengaruhinya ada beberapa. Salah satunya adalah ISO/ASA yang digunakan. Setiap peningkatan 1 stop pada ISO/ASA akan menyebabkan GN bertambah sebesar sqrt(2) atau sekitar 1,4 kali (atau jarak terjauh dikali 1.4) dan peningkatan 2 stop pada ISO/ASA akan menyebabkan GN bertambah 2 kali (atau jarak terjauh dikali 2).

Indoor Flash

Blitz sering bahkan hampir selalu digunakan di dalam ruangan. Alasannya karena di dalam ruangan biasanya penerangan lampu agak kurang terang untuk menghasilkan foto yang bisa dilihat. Memang, ada teknik menggunakan slow shutter speed untuk menangkap cahaya lebih banyak, tapi biasanya hal ini menyebabkan gambar yang agak blur karena goyangan tangan kameraman maupun gerakan dari orang yang ingin kita foto. Karena itu, biasanya kita menggunakan blitz.

Penggunaannya biasanya sederhana. Kita bisa setting kamera digital di auto dan membiarkannya melakukan tugasnya atau bisa juga kita melakukan setting sendiri menggunakan perhitungan yang sudah dilakukan di atas. Tidak sulit. Hanya saja, ada beberapa hal perlu kita perhatikan agar mendapatkan hasil maksimal.

1. Jangan memotret obyek yang terlalu dekat dengan blitz yang dihadapkan tegak lurus. Ambil contoh dengan blitz GN 20 yang menurut saya cukup memadai sebagai blitz eksternal bagi kamera digital dalam pemotretan indoor dalam ruangan (bukan aula). Jika kita ingin memotret sebutlah orang pada jarak 2 meter dengan ISO/ASA 200 maka kita membutuhkan f/16 yang tidak tersedia pada sebagian besar PDC dan akan menghasilkan gambar yang over. Karena itu, untuk PDC/DSLR biasanya sudah terdapat flash built-in yang TTL dan memiliki GN agak kecil (8-12 pada sebagian PDC, 12-14 pada DSLR). Gunakan itu daripada flash eksternal untuk obyek yang agak dekat.

2. Kombinasikan flash dengan slow shutter speed untuk mendapatkan obyek utama tercahayai dengan baik dan latar belakang yang memiliki sumber cahaya juga tertangkap dengan baik. Ini adalah suatu teknik yang patut dicoba dan seringkali menghasilkan gambar yang indah. Jangan takut menggunakan speed rendah karena obyek yang sudah dikenai flash akan terekam beku (freeze).

3. Bila ruangan agak gelap, waspadai terjadinya efek mata merah/red eye effect. Efek mata merah ini terjadi karena pupil mata yang membesar untuk membiasakan diri dengan cahaya yang agak gelap tetapi tiba-tiba dikejutkan cahaya yang sangat terang dari flash. Jika kamera dan/atau flash terdapat fasilitas pre-flash/red eye reduction, gunakan hal ini. Jika tidak, akali dengan mengubah sudut datangnya cahaya flash agar tidak langsung mengenai mata.

4. Dalam ruangan pun ada sumber cahaya yang kuat seperti spotlight. Hindari memotret dengan menghadap langsung ke sumber cahaya kuat tersebut kecuali ingin mendapatkan siluet yang tidak sempurna (kompensasi under 1 – 2 stop untuk siluet yang baik). Dalam kondisi demikian, gunakan flash untuk fill in/menerangi obyek yang ingin dipotret tersebut.

Bounce/Diffuse

Flash adalah sumber cahaya yang sangat kuat. Selain itu, flash adalah cahaya yang bersumber dari sumber cahaya yang kecil (sempit). Karenanya, bila cahaya ini dihadapkan langsung pada suatu obyek akan menyebabkan penerangan yang kasar (harsh). Dalam sebagian besar foto dokumentasi konsumsi pribadi dimana petugas dokumentasi menggunakan kamera point & shoot (film/digital) ini bisa diterima. Tetapi dalam tingkat yang lebih tinggi dimana hasil foto ini akan menjadi konsumsi umum, alur keras cahaya akan memberi efek yang kurang sedap dipandang. Ditambah lagi biasanya ini akan menyebabkan cahaya flash memutihkan benda yang sudah agak putih dan menyebabkan detail-detail tertentu lenyap.

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari hal ini dalam artian melunakkan cahaya tersebut:

1. Memperluas bidang datang cahaya yaitu dengan memantulkannya ke bidang lain (bounce).

2. Menyebarkan cahaya yang datang dari sumber kecil tersebut sehingga meluas (diffuse).

Bounce flash dilakukan dengan cara memantulkan flash ke satu bidang yang luas sehingga cahaya datang dalam sudut yang lebih luas. Kita bisa menggunakan langit-langit atau dinding yang ada dalam ruangan. Jika flash eksternal yang terpasang pada kamera digital terhubung melalui hot shoe, maka flash tersebut harus memiliki fasilitas tilt untuk memantulkan cahayanya. Jika terpasang melalui kabel synchro, maka kita bisa memasang flash pada bracket dengan posisi sedikit menghadap ke atas/samping atau memegangnya dengan posisi demikian.

Posisi memantulkan yang tepat agar cahaya jatuh tepat pada obyek adalah dengan menghadapkan flash tersebut pada langit-langit di tengah fotografer/flash dan obyek.

Beberapa hal perlu kita perhatikan dalam memanfaatkan bounce flash ini adalah:

1. Jarak untuk menghitung f/stop berubah bukan menjadi jarak kamera dan obyek tetapi berubah menjadi jarak yang dilalui oleh cahaya flash tersebut. Normalnya pada sudut tilt 45° kita akan melebarkan aperture 1 stop dan pada sudut tilt 90° kita melebarkan aperture sebesar 2 stop. Tentunya ini hanya panduan ringkas. Pada pelaksanaan tergantung teknis di lapangan.

2. Berkaitan dengan no. 1 di atas, maka jarak langit-langit/dinding tidak boleh terlalu jauh atau akan jadi percuma.

3. Gunakan selalu bidang pantul berwarna putih dan tidak gelap. Warna selain putih akan menyebabkan foto terkontaminasi warna tersebut sedangkan warna gelap akan menyerap cahaya flash tersebut.

4. Perhatikan bisa terjadi kemunculan bayangan pada sisi lain cahaya. Misalnya jika kita memantulkan ke langit-langit maka kita akan mendapatkan bayangan di bawah hidung atau dagu dan jika kita memantulkan ke dinding di kiri maka akan ada bayangan di sebelah kanan. Untuk mengatasinya kita dapat menyelipkan sebuah bounce card di bagian depan flash tersebut sehingga ketika kita memantulkan cahaya ke atas/samping kita tetap memiliki cahaya yang tidak terlalu kuat yang mengarah ke depan dan menetralisir bayangan yang muncul.

Untuk mengambil foto secara vertical, akan mudah kalau kita menggunakan koneksi kabel karena kita dapat dengan mudah menghadapkan flash ke atas jika menggunakan bracket atau dipegang. Tetapi jika koneksi kita adalah hot shoe maka pastikan flash kita memiliki fasilitas swivel head sehingga dapat kita putar menghadap ke atas. Lebih bagus lagi jika kita memiliki flash yang dapat di-tilt dan swivel. Ini akan mengakomodasi sebagian besar kebutuhan kita.

Cara lain melunakkan cahaya adalah dengan memperluas dispersinya. Caranya gunakan flash diffuser. Flash diffuser akan menyebarkan cahaya yang keluar dari flash ke segala arah sehingga cahaya yang keluar tidak keras. Umumnya tersedia diffuser khusus untuk flash tertentu mengingat head flash berbeda-beda. Dapat juga kita membuat sendiri diffuser untuk flash kita menggunakan bermacam-macam alat.

Ketika kita menggunakan diffuser, sebenarnya kita menghalangi area tertentu dari arah cahaya flash dan membelokkannya ke tempat lain. Ini mengurangi kekuatan flash yang kita gunakan tersebut. Jika diffuser yang kita gunakan adalah hasil beli, maka kita dapat membaca berapa kompensasi aperture yang kita perlukan ketika menghitung eksposur. Biasanya terdapat pada kotak atau kertas manual. Jika kita memutuskan membuat sendiri, maka kita bisa melakukan eksperimen berkali-kali agar mendapatkan angka yang pas untuk kompensasi yang diperlukan kali lainnya.

Outdoor Flash

Sekilas jika kita berpikir tentang penggunaan flash, maka kita akan tahu kalau itu berlaku untuk suasana pemotretan yang kekurangan cahaya. Karenanya, kita umumnya tidak memikirkan tentang perlunya penggunaan flash pada pemotretan luar ruangan (siang hari, of course) karena sinar matahari sudah sangat terang. Di sinilah kesalahan kita dimulai. Flash sangat dibutuhkan pada pemotretan outdoor, terutama pada:

  1. Kondisi obyek membelakangi matahari. Pada kondisi seperti ini, meter kamera akan mengira suasana sudah cukup terang sehingga akan menyebabkan obyek yang difoto tersebut gelap/under karena cahaya kuat tersebut percuma karena tidak direfleksikan oleh obyek. Cara mengakalinya adalah dengan melakukan fill in pada obyek sehingga walaupun latar sangat terang tetapi obyek tetap mendapat cahaya.
  2. Matahari berada di atas langit. Ini akan mengakibatkan muncul bayangan pada bawah hidung dan dagu. Gunakan flash untuk menghilangkannya. Untuk melembutkan cahayanya gunakan bounce card atau diffuser.
  3. Obyek berada pada open shade (bayangan). Flash digunakan untuk mendapatkan pencahayaan yang sama pada keseluruhan obyek karena bayangan akan membuat gradasi gelap yang berbeda-beda pada bagian-bagian obyek apalagi wajah manusia.
  4. Langit sangat biru dan menggoda. Jika kita tidak tergoda oleh birunya langit dan rela mendapat foto langit putih ketika memotret outdoor maka silahkan lakukan metering pada obyek tanpa menggunakan flash atau dengan flash. Jika kita rela obyek kekurangan cahaya asalkan langit biru silahkan lakukan metering pada langit. Nah, jika kita ingin langit tetap biru sekaligus obyek tercahayai dengan baik, gunakan metering pada langit dan fill flash pada obyek. Ini akan menghasilkan perpaduan yang tepat dan pas.
  5. Langit mendung. Ketika langit mendung, jangan segan-segan gunakan flash karena efek yang ditimbulkan awan mendung akan sama seperti jika kita berada di bawah bayangan.

kata kunci yang berhubungan dengan artikel ini:


38 responses so far, say something?

  1. Indosoul Says:

    Wih.. Hebat nih teknik Flash nya yahud…

    Baca2 lagi ah :mrgreen: :mrgreen:

    Balas

    ariel Reply:

    silahkan

    Balas

  2. jovie Says:

    Wah, bagus nih Om..yang out door flash itu penting banget..

    Itu yang selalu saya alami ketika memotret….ternyata gitu yah Om..

    Makasih nih infonya, bener2 luar biasa.lain dari yang lain…

    jovies last blog post..Tentang ReView

    Balas

    ariel Reply:

    wah berlebihan neh si neng, biasa aja lah, sukur kalo bisa bermanfaat :)

    Balas

  3. tyas Says:

    hehe.. biasanya kalo foto tinggal cekrek-cekrek..
    makasih infonya ya..
    segera dipraktekkan..

    tyass last blog post..Membaca karakter orang lain

    Balas

    ariel Reply:

    hehehe, kan biasanya si mbak ene yang difoto, suka fotografi juga ya mbak?

    Balas

  4. badoer Says:

    waduh punyanya HP, ndak bisa ngeflash nie

    badoers last blog post..Blog Sampah Ada Dimana-mana

    Balas

  5. afwan auliyar Says:

    :mad: :mad: :mad: :mad:
    nggak ngerti photografi kang….
    tp klo jd mocel foto, haYUK…sapa yg nolak !?!?!?

    afwan auliyars last blog post..macam & ragam Indonesia, siapa yang bangga !?!?

    Balas

  6. Petani Internet Says:

    Wah kapan kapan diajari donk,
    kapan mampir ke Gubung saya
    di Pasadena Hill Ph3-20
    Tamandayu Pandaan.

    Serius Mode ON
    Ajari aku Photografi.
    Bukan Phornografi.
    kekekek

    Balas

    ariel Reply:

    hayuk lah pakdhe, tukeran ilmu, serius mode On juga :p
    kapan2 pasti saya maen ke pandaan pakdhe

    Balas

  7. supris Says:

    wah…..sangar cak postingnya….sory baru baca, sibuk ngurusi tampilan baruku…he.he.,btw, kalo hasil indoor flash ama outdoor flash digabung, trus diedit di photoshop..kayaknya bakal rame hasilnya..he..he.(promosi cak.. :grin: )

    Balas

  8. Ani Says:

    Waaah panjang tutorialnya, sayangnya aku ngk paham masalah potografi

    Anis last blog post..Pe-er dari Bunda Nayla

    Balas

  9. kang boim Says:

    info bagus nih….pa lagi buat saya…yang masih awam soal dunia fotografi

    Balas

  10. Lyla Says:

    bagus infonya pak..secara aku suka fotografi tp masih amatiran banget hehehe

    Lylas last blog post..Pria itu ternyata memang susah…

    Balas

  11. chymenk bugil Says:

    thanks infonya bos! keren :mrgreen:

    chymenk bugils last blog post..tips nonton video di youtube biar cepat kayak nonton TV!

    Balas

  12. moezig Says:

    mantap! artikelnya… euy

    moezigs last blog post..Ir. Daniel Teguh Rudianto, MT

    Balas

  13. Silo Says:

    Kebetulan belum lama punya camdig jadi belum tahu yang ginian. Trimakasih buat ilmunya.. :idea:

    Silos last blog post..Kampung Sayur Sido Mulyo Tembesi

    Balas

  14. teguh Says:

    keren pembahasanya,tapi saya belum begitu bisa fotografi.. :cry:
    baru maw beli,hehehehe
    om klu maw beli canon eos 450d kira2 bwt pemula cocok gak?????

    tkhs

    Balas

    ariel Reply:

    cocok lah bang, tapi agak terlalu berlebihan untuk pemula :p
    kalo sukanya Canon, bisa mulai dari EOS 350D ato 400D

    Balas

  15. invisibleone Says:

    wah terima kasih sudah mau berbagi. banyak sekali ilmu yang bisa didapat dari blog ini.

    invisibleones last blog post..Ray

    Balas

  16. Liem_Luthor Says:

    thanks infona om
    kalo boleh request nih ya om, nulis artikel gimana tuh tip n trick cara foto acara keluarga misal ultah, berangkat haji, atau pernikahan. gak usah yg pro banget abis pembacanya juga amatir jadi masih bisa nangkep n mraktekin gituuuu
    best appreciate…

    Balas

    ariel Reply:

    tunggu tanggal tayangnya yah.. :D

    Balas

  17. ainun_n Says:

    wah…bermanfaat bgt ni ilmunya buat wa,coz wa ni bener2 amatir n ga tau apa2,ni aja lagi bingung foto pernikahan yang ujung2nya fotonya merah semua…pusinnggg…

    Balas

  18. jiie Says:

    makasih bgt nih om infonya, karena selama itu jarang sekali memperhatikan kalo lagi id outdor.

    Balas

  19. jiie Says:

    sekalian ni kalo bisa infonya tentang foto wedding kalo di gedung dan dirumah bagusnya flash apa atau pake lighting, maklum baru belajar ni, hehehe

    Balas

  20. Teknik Dasar Fotografi Digital (bag 3) : Terminologi Fotografi « dunia iman Weblog Says:

    [...] Blitz : Lampu kilat atau flashgun. Alat ini merupakan cahaya buatan yang berfungsi menggantikan peran cahya matahari dalam pemotretan. Untuk menangkap kilatannya diperlukan suatu kecepatan tertentu yang telah disesuaikan (disinkronkan) dengan kamera. Cahaya blitz umumnya bisa ditangkap dengan kecepatan kamera 1/60 detik. [...]

  21. meth clean product Says:

    My friend is the same camera and he is very happy with it. I also think buy the same because I like its design and its many functions!

    Balas

  22. adie Says:

    terimakasih infonya pak. sangat bermanfaat bagi saya yang masih bego tentang dunia poto-potoan. terimakasih dan salam kenal

    Balas

  23. Angri Godhage Says:

    Terima kasih atas masukan ilmu yg sangat bermanfaat ini. sangat membantu sekali untuk pemula seperti saya. jika ada tema tentang Flash yg lainnya, mohon di posting lg ya om. Terima Kasih…………… salam…………………..

    Balas

  24. dany Says:

    Ass…..
    ini mungkin info yg sangat saya butuhkan untuk tau lbh jauh tntang flash.
    tapi maaf bapak,,,,boleh saya tanya sedikit?
    berhubung saya kurang jelas tentang flash.saya mau menanyakan?kalo untuk flash ekternal yg dari nikon.apa itu sangat berpengaruh sekali dengan hasil yg di dapat?dan untuk settingannya apakah nanti sudah akan otomatis?
    soalnya sblmnya saya jika motret pernikahan memakai flash metz dan lampu payung.hasilnya malah ga rata.

    Balas

  25. miqdad Says:

    ijin copas bang,buat baca2 n nambah pengetahuan tentang fotografi. masih newbie ni :)

    Balas

  26. jumahir jamulia Says:

    thanks ya atas info dan ilmu ttg foto dlm blog ini…sangat bermanfaat, terutama bagi sy sbg pemula pecinta foto

    Balas

  27. Download mp3 gratis Says:

    alhamdulillah dapat ilmu gratis di sini, sukses buat anda n salam kenal

    Balas

  28. hmm Says:

    info yang bermanfaat
    thx ya
    minta lagi klo masih ada. hehe

    Balas

  29. ibel69 Says:

    keren bos!!! saya baca dari awal sampai akhir, banyak bgt dapet iLmu… thanks!

    Balas

  30. Riadi Says:

    wah muantap….
    aku baru pingin nyoba foto2..soalnya camera lom ada..hehehe. tapi gak salah baca2 dulu…Thanks..

    Balas

  31. Teknik Dasar Fotografi Digital « Saling Melengkapi & Berbagi Informasi Says:

    [...] Teknik Dasar Fotografi Digital (bag 4) :… Setelah sekian lama serial artikel tentang teknik dasar fotografi digital nggak saya update di blog … [...]

  32. Terminologi Dalam Fotografi « Tommy Yoewono Says:

    [...] Blitz : Lampu kilat atau flashgun. Alat ini merupakan cahaya buatan yang berfungsi menggantikan peran cahya matahari dalam pemotretan. Untuk menangkap kilatannya diperlukan suatu kecepatan tertentu yang telah disesuaikan (disinkronkan) dengan kamera. Cahaya blitz umumnya bisa ditangkap dengan kecepatan kamera 1/60 detik. [...]

Leave a Reply

Switch to our mobile site